Saturday, September 14, 2013

Jurnal Refleksi Minggu Ke 2



          Hidup adalah sebuah proses belajar tanpa batas. Setiap saat, pasti ada yang bisa kita pelajari dalam hidup kita, apapun itu.
Karena hidup setiap saat selalu berubah. Hidup adalah perubahan. Jadi kita harus selalu mau belajar dalam kehidupan kita.
Seperti waktu kita sekolah, pasti sering mendapat soal-
soal untuk menguji seberapa baik kita belajar, utk menguji kemampuan kita, menguji apakah kita sudah benar-benar belajar dan mengerti apa yg diajarkan. Kalo kita gak bisa mengerjakan maka tanya kepada Bpk/ Ibu Guru yang membuat soal. Begitu juga dalam hidup kita, kita juga pasti sering mendapat masalah/ persoalan. Anggap aja itu sebagai soal / pe er / tugas dari Guru kita, utk menguji kita apakah kita serius belajar dlm kehiduan kita. So, kalo gak bisa, kita juga boleh tanya kepada Sang Maha Pembuat Soal. Siapa? Ya pasti Tuhan dong... Kita bisa tanya, ataw bahkan curhat tentang segala persoalan kita, hingga kita diberi petunjuk memecahkan masalah kita.
Now...sudah siapkah kita untuk selalu belajar dalam kehidupan kita?
How about U?
Keep spirit...Keep ACTION...!

           Dalam pembelajaran kelas retail yang di awali pada tanggal 19 agustus 2013 ini banyak sekali yang saya pelajari dan ilmu yang bisa saya petik dan menambah wawasan untuk di terapkan dalam kehidupan saya di hari yang akan datang, langkahkan kaki lompatkan lebih tinggi lagi. Ber-entrepreneur secara inovatife setidaknya harus melakukan 3 langkah yaitu opportunity seeking (pencarian peluang), innovator (innovator), dan calculated risk taker (pengambil resiko)
 Yeeeach itulah yang akan saya lakukan untuk kedepannya, , ,  Seperti yang Pak Ciputra katakan ketika melihat ada peluang di depan mata “Jangan berkata tidak mungkin dulu, segala sesuatu yang kita persiapkan untuk tujuan yang masuk akal namanya perencanaan, sedangkan kalaw tujuannya tidak masuk akal lalu kita temukan solusinya, maka itulah yang di sebut inovasi. 

Sebuah Kesimpulan
Peter Drucker
mengingatkan kita kembali bahwa “innovation is the instrument of entrepreneurship” .
Instrument untuk apa? Inovasi adalah instrument untuk menciptakan nilai tambah secara dramatis dan kreatife di dalam tiap fungsi dari bisnis.

Live the life you want to live, never be ashamed of anything. Make decisions make mistakes  if you fall, at least you fell because you tried, no regret, it’s a life. A person who never  made a mistake never tried anything new !
Kata-kata bijak ini yang akan mengantarkan saya ke pintu gerbang kesuksesan,,,, “YES I CAN “


  
Tak ada yang tak mungkin jika kita mau belajar dan berusaha pasti kita bisa melakukannnya, ya kita bisa melakukannya!
         
            Siapakah pencipta peluang itu ?
Untuk memahami lebih dalam apa itu penciptaan peluang kita perlu melihat dari 2 kondisi utama yang menentukan sejauh mana peluang dapat kita raih, yaitu permintaan (demand) dan pasokan (supply).

TABEL IDENTIFIKASI PELUANG


Permintaan sudah jelas
Permintaan sudah jelas
Pasokan sudah jelas
Opportunity Recognition
Opportunity Seeking
Pasokan tidak jelas
Opportunity Discovery
Opportunity Creation

Opportunity Regocnition

            
Ketika peluang berhasil di identifikasi dalam situasi permintaan dan pasokan yang sudah jelas, maka dapat kita namakan proses ini sebagai opportunity regocnition.  Dalam situasi ini kita tidak perlu menciptakan produk baru untuk pasar dan juga tidak perlu memusingkan pasar mana yang butuh produk, karena baik produk ataw pasarnya sudah terdefinisi jelas. Sebagi contoh adalah apa yang biasa terjadi dalam bisnis retail. Seorang pedagang menemukan bahwa satu jenis barang  dagangan tertentu ternyata sering sekali di cari pelanggan.
Pedagang dengan jiwa entrepreneur akan mendeteksi opportunity regocnition. Dia akan segera menyediakan barang ini  dengan jumlah cukup dan beragam pilihan. Sang entrepreneur cukup mendeteksi kebutuhan konsumen lalu mencari pasokan dan selanjutnya  melakukan transaksi dengan konsumen. 
             Inilah cara mendapatkan peluang paling mendasar , namun tidak semua orang memiliki sensitivitas pasar memadai sehingga dapat mengenali peluang dengan  jelas. Bahkan ketika peluang itu datang mengetuk, ini contohnya :



 

          Dulu  ketika saya belum mengikuti kelas entrepreneurship jika ada yang bertanya , “Uny ada barang elektronik, HP, Camera, power bank dll ,,, ?!?! kemudian saya jawab “ tidak ada, saya hanya menyediakan busana muslim dan garment lainnya”


Tapi setelah saya mengikuti kelas entrepreneurship dan kelas retail ini peluang yang saya lihat banyak sekali dan sekarang saya siap menerima dan menyiapkan  orderan ataw permintaan  dari customer .

 Opportunity Seeking
            
Dalam situasi ini entrepreneur  telah memiliki produk yang hendak ia pasarkan. Namun ia belum tahu siapa yang memerlukan produk ini, berapa harga yang dapat di terima dan bagai mana berkomunikasi secara efektif kepada prospek pengguna produk. Dalam  opportunity seeking sang entrepreneur akan bertanya tiga pertanyaan mendasar bagi keberhasilan sebuah produk yaitu: siapa, dimana, dan berapa banyak peluangnya. Peluang adalah adalah kata kunci yang mendahului produk, bukan sebaliknya. Jadi ketika kita mendapatkan priduknya terlebih dahulu, maka kita harus kembali lagi ke pertanyaan utama tentang peluang sebelelum membuat membuat program untuk pemasaran produk tersebut. Contohnya adalah Kiss Me Meter. Alat ini di gunakan untuk mengukur sejauh mana bau mulut seseorang sehingga orang tersebut boleh mencium orang lain.

                                           
                Di korea produk ini telah di kenal , namun belum kita dapatkan dengan mudah di Indonesia. Apakah anda jadi pengimpornya, maka sebagai entrepreneur Anda harus melakukan
oppotunity seeking.
Anda harus bertanya siapa, di mana dan berapa besar prospek pengguna Kiss Me Meter di Indonesia? Setelah mendapat jawabannya, baru pikirkan strategi pemasarannya. Bila ini tidak di lakukan dan Anda hanya melakukan promosi besar-besaran melalui TV untuk menjual Kiss Me Meter, jangan-jangan Anda bisa di hujat para Guru dan orang tua anak-anak di bangku sekolah.

Opportunity Discovery
             
Seorang entrepreneur di katakana telah melakukan opportunity discovery  bila ia melaluinya dengan kebutuhan pasar yang sangat nyata. Sebuah persoalan yang belum terselesaikan ataw sebuah ketidakpuasan akut yang di hadapi pelanggan. Entrepreneur akan melihat permasalahan adalah peluang, kesulitan adalah kesempatan, dan mereka akan terpicu untuk menemukan solusinya serta memasarkan solusi tersebut. Proses men-“discover (menemukan dengan sengaja)” solusi tersebut adalah proses opportunity discovery. Sebagai contoh, pada saat ini di butuhkan obat kanker mujarab tapi murah, bahan bakar pengganti bensin, alat transportasi bebas polusi, dan sebagainya. Produk-produk baru yang di hasilkan para entrepreneur  untuk mengatasi permasalahan itu merupakan contoh opportunity discovery. Berikut ini adalah kisah Wahyudi Anggoro yang mengembangkan Bio Diesel dari bahan alami Nyamplung.

Salam Entrepreneur,,,

Sumber: http://www.unctad.org/en/docs/webiteteb20043_en.pdf

No comments:

Post a Comment